Tiket Murah Jakarta-Madrid pp

Turkish Airline (http://www.thy.com) telah membuka jalur penerbangan dengan tiket berharga murah dari Madrid ke Jakarta sejak bulan September 2009. Saat ini, tiket termurah untuk melakukan perjalanan dari Madrid ke Jakarta pp adalah seharga €600-an (bulan Mei dan Juni), sekitar 40% lebih murah daripada maskapai penerbangan seperti KLM dan Lufthansa.

Harga tiket yang dijual oleh Turkish Airline ini juga lebih murah daripada harga tiket Qatar Airways, yaitu sekitar €820 untuk bulan-bulan Mei dan Juni. Harga tiket untuk KLM dan Lufthansa sekitar €1030 atau minimal sekitar €900-an.

Waktu perjalanan dari Madrid ke Jakarta dengan Turkish Airline adalah sekitar 18 jam. Transit dilakukan di bandara Istanbul dan dari Istanbul penerbangan dilanjutkan dengan menggunakan pesawat lain menuju Singapura dan kemudian ke Jakarta sebagai tujuan akhir rute Madrid-Jakarta.

Pesawat yang digunankan Turkish Airline untuk melayani rute ini terdiri dari Boeing 737-800 dan Airbus A-330. Boeing digunakan untuk terbang dari Madrid ke Istanbul dan Istanbul-Madrid sedangkan Airbus digunakan untuk terbang dari Istanbul ke Jakarta dan Jakarta-Istanbul.

Sebuah Misa dengan 10 Umat

Venezia, kota tua yang mulai rapuh dimakan usia, namun masih menyisakan kecantikan dan keantikannya. Ada begitu banyak gereja tua yang cantik dibangun di kota yang sekarang dikelilingi oleh air laut melewati kanal-kanal besar dan kecil. Sayang sekali, gereja-gereja tua itu kemungkinan besar hanya menjadi museum dan tempat para turis berlalu lalang melihat ukiran, lukisan dan benda seni lain di dalam gereja itu.

Ada sebuah gereja yang terletak sedikit di sebelah utara Basilika San Marco yang terkenal. Gereja San Zulian, demikian namanya. Gereja ini dibangun pada sekitar abad 16, tidak sebesar dan semegah Basilika San Marco yang menjadi pusat perhatian utama bagi turis-turis yang berkunjung ke Venezia, tapi cukup untuk menampung sekitar 100 orang umat.

Gereja ini menyediakan misa hari Minggu dalam bahasa Inggris, yang diadakan pada jam 11.30 pagi. Pada hari Minggu tanggal 3 Januari 2010 lalu, hanya ada sekitar 10 umat yang menghadiri misa di gereja yang cukup besar dan megah itu. Sang Pastor yang hendak memimpin misa datang tepat jam 11.30. Beliau tampak sudah agak tua, dalam situasi kedinginan karena gereja tidak memiliki pemanas, sang Pastor tetap bersemangat untuk memulai perayaan ekaristi.

Demi agar tidak melakukan semua hal sendirian, sang Pastor mencari sukarelawan untuk membacakan bacaan pertama, mazmur dan bacaan kedua. Demikian pula bacaan untuk doa umat. Akhirnya, petugas bacaan diputuskan pada saat itu pula. Sedangkan petugas kolekte dilakukan oleh seorang ibu tua yang mungkin adalah sukarelawan penjaga gereja itu setiap hari tanpa henti. Ibu tua ini adalah ibu yang sama dengan yang kami lihat 1 hari sebelumnya, ketika kami tidak sengaja singgah di gereja San Zulian pada malam hari.

Misa akhirnya dilakukan tanpa nyanyian, tanpa koor, hanya dengan membaca doa-doa dan mendengarkan homili dari Sang Pastor.  Sang Pastor betul-betul menyediakan dirinya untuk melayani kebutuhan turis/pendatang. Sayang sekali, tidak banyak turis yang tertarik untuk singgah di sana dan mengikuti misa. Mereka hanya lewat saja. Menyedihkan….

Tentang Luggage alias Koper Bagasi

Membeli sebuah koper yang mahal tetapi sangat kuat ternyata adalah tindakan yang lebih cerdas daripada membeli sebuah koper agak mahal yang cepat rusak. Mengapa demikian? Jawabannya adalah karena:

1. Petugas bagasi perusahaan penerbangan bukan pemilik koper Anda.

2. Para petugas bagian bagasi tidak hanya mengurusi 1 atau 2 koper milik Anda dan pasangan/keluarga Anda.

Saat menunggu penumpang lain masuk pesawat, saya sering melihat keluar jendela dan mengamati petugas bagian bagasi yang sedang memasukkan koper-koper ke bawah perut pesawat terbang lain yang ada di samping. Seringkali saya lihat mereka melemparkan begitu saja koper-koper yang sedang mereka urus. Seandainya suara benturan koper itu bisa saya dengar, pastilah bunyinya kurang lebih akan seperti brak..bruk…brak…bruk.

Cara para petugas-petugas itu mengangkat koper-koper pun ternyata sesuka mereka. Pokoknya apa yang bisa dicengkeram dengan cepat akan mereka cengkeram dan angkat dengan segera serta lemparrrrr….

Jangan bayangkan mereka akan mencari pegangan koper tempat kita biasanya menarik atau mengangkat koper kita. Terlalu banyak waktu akan mereka habiskan jika mencari dan memasukkan kembali pegangan-pegangan itu, sehingga mereka biasanya hanya mencari tempat untuk mencengkeram si koper. Sebagai akibat dari metode pencengkeraman, koper yang terbuat dari bahan nylon berkualitas rendah seringkali hanya terpakai sekali saja karena mudah robek di bagian resliting kantong depan (karena memiliki sudut yang mudah untuk dicengkeram).

Untuk menghindari kerusakan akibat tingkah laku petugas bagasi yang main lempat seenaknya sendiri, sebaiknya menggunakan koper yang berkualitas lebih tinggi, dengan bahan yang lebih kuat, seperti polycarbon yang juga sekaligus ringan. Bahan demikian akan membuat koper menjadi lebih mahal, tetapi lebih baik mahal sedikit dan koper bisa dipergunakan sampe lecet-lecet daripada koper baru cuma terpakai 1 atau 2 kali kan?

Visit Indonesia Year 2009

More information can be read in http://www.tourismindonesia.com

Dubai: Metropolitan a la Amerika di Timur Tengah

Keluar dari airport setelah mengambil bagasi, udara panas langsung menerpa wajah, serasa berada di bahwa mesin Boeing 747-400 nomor penerbangan LH-630 yang barusan saya naiki dari Frankfurt ke Dubai. Walaupun saat itu hampir jam 11 malam,  suhu udara di luar airport kemungkinan besar berkisar di wilayah 40-an derajat Celcius, tanpa ada sinar matahari di atas kepala.

Ini adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di tanah Timur Tengah, lebih tepatnya lagi masuk secara resmi melewati petugas imigrasi ke negara Arab. Tahun 2003, ketika transit di Abu Dhabi, saya tidak bisa melewati petugas imigrasi karena tidak memiliki visa. Waktu itu saya  memang tidak berencana untuk keluar dari airport, jadi tidak meminta visa terlebih dulu di Jakarta. Keperluan saya waktu itu hanya transit sekitar 6 jam, setelah terbang dari Islamabad, Pakistan.

Kota Dubai yang terlihat oleh mata saya selama sekitar 4 hari, minggu lalu, adalah sebuah kota modern, metropolitan dengan gedung pencakar langit berada di mana-mana. Dubai sedang giat membangun lebih banyak konstruksi baru lagi, termasuk Burj Dubai, yang konon akan lebih tinggi daripada Burj Al Arab, hotel bintang 7 satu-satunya di dunia.

Jalan raya di Dubai berkualitas sangat baik dan lebar, terkesan angkuh, dalam arti hanya dibuat untuk pengendara mobil. Pepohonan di pinggir jalan hampir tidak ada, tentu saja karena kondisinya yang kering hingga sulit menumbuhkan pepohonan. Di mana-mana ada perkantoran dan pusat perbelanjaan.  Gaya hidup konsumtif sangat dipuja di Dubai, cocok bagi kaum berada.

Hotel tempat saya menginap, Grand Hyatt Dubai, yang berada dekat Dubai Creek, juga megah dan terkesan mewah. Konon, jika dilihat dari atas misalnya dengan menggunakan Google Earth, bentuk hotel Grand Hyatt adalah tulisan nama Dubai dalam bahasa Arab. Dari dalam, bentuknya memang terasa aneh, lorong jalan menuju ke kamar berbentuk agak melengkung, bukan garis lurus seperti hotel-hotal lain biasanya.

Grand Hyatt memiliki fasilitas super lengkap, beberapa kolam renang, gym, berbagai macam restoran, hiburan live music di lobby setiap jam 7-8 malam, dengan 3 pemain biola dan 1 pembetor bass, semuanya cewek bule, entah diambil dari mana, eh cantik-cantik lagi. Live performance juga ada di restoran Lebanon yang kami masuki, ada tari perut, hampir sih, karena yang nari memperlihatkan perutnya begitu lho.

Kembali ke kota Dubai, pembangunan konstruksi baru, konon menurut orang-orang yang tinggal di Dubai, serasa tidak pernah habis. Modal investor terus saja masuk ke sana. Menurut cerita, Tiger Wood juga memiliki gedung sendiri di Dubai (duit untuk membangunnya sih bukan dari Tiger Wood), lalu Donald Trump juga nanti akan memasang namanya di salah satu gedung.

Tak hanya konstruksi pencakar langit dengan pekerja dari India dan Asia Selatan pada umumnya yang berada di Dubai, konstruksi palem-palem dan peta dunia di Laut Persia juga sedang dilakukan. Salah satu palem yang bernama Palm Jumeirah sekarang sudah didiami. Palem yang lain sedang dikonstruksi. Betul-betul deh, entah duit siapa yang mengalir ke sana.

Hidup di Dubai dengan fasilitas modern yang ada, dengan rasa aman yang berhasil mereka ciptakan dan pajak yang tidak mereka pungut, bagi orang-orang yang memiliki penghasilan tinggi, tampaknya akan sangat menarik karena gaya hidup di sana betul-betul sudah versi Amerika. Tapi bagi yang berpenghasilan kecil, hidup di Dubai mungkin tidak seenak yang terlihat oleh mata.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.