Pedoman Dasar Bertahan Hidup di Gurun
24 May 2009 Leave a Comment
Dua geologist ditemukan tewas di gurun pasir Sahara, bagian Empty Quarter saat mobil yang mereka kendarai mogok di tengah gurun. Mereka memutuskan untuk berjalan kaki mencari perkampungan terdekat, tapi keburu tewas setelah berjalan sejauh 21 km dari lokasi awal mobil mereka.
Laptop dan GPS yang mereka bawa sudah tidak memiliki daya sama sekali dan mereka tinggalkan di mobil. Kemungkinan besar mereka mengambil keputusan untuk berjalan kaki setelah menunggu sekian lama dan tidak kunjung diberi bantuan. Kedua geologist ini berasal dari Sudan dan Pakistan, mereka bekerja untuk sebuah perusahaan yang mencari air di gurun Sahara.
Padang gurun adalah salah satu tempat yang sangat berbahaya di muka bumi karena panas dan sinar matahari membuat tubuh dehidrasi sehingga metabolisme menjadi kacau dan berujung ke kematian. Oleh karena itu, melakukan perjalanan di gurun tidak boleh disamakan seperti ketika sedang berpelesir di pantai.
Ada beberapa pedoman dasar untuk bertahan hidup di gurun yang dituliskan oleh Edward J. Otten, MD dan dipublikasikan di situs ISTM. Pedoman ini sangat bermanfaat untuk menyiapkan diri ketika hendak bekerja di gurun pasir.
Selain menyiapkan kondisi fisik dan membawa air yang banyak, membawa peralatan yang dapat digunakan untuk memberikan sinyal juga sangat penting. Contoh peralatan untuk sinyal itu adalah alat pembuat api, kaca pemantul sinar matahari dan alat pembuat asap.
Pedoman paling dasar untuk bertahan hidup di padang gurun Edward namakan “Aturan Tiga”, yaitu kita bisa bertahan hidup 3 menit tanpa oksigen, 3 jam tanpa panas, 3 hari tanpa akhir dan 3 bulan tanpa makanan. Dengan demikian, hal paling utama yang harus kita usahakan adalah mendapatkan kehangatan di malam hari dan mendapatkan air yang banyak untuk bertahan hidup walaupun tidak makan selama berhari-hari.
Jika kita hanya membawa sedikit air, maka usahakan untuk menggunakannya dengan hemat bahkan dengan cara tidak perlu makan makanan yang banyak memakai air ketika dicerna oleh tubuh. Membawa makanan yang banyak mengandung air dan energi juga sangat disarankan.
Ketersediaan air sangat penting untuk bertahan hidup di padang gurun, oleh karena itu mendapatkan asupan air yang cukup adalah kunci bagi keberhasilan bertahan hidup. Pedoman yang lebih lengkap silakan baca tautan di atas.
Tamiflu
09 May 2009 Leave a Comment
Akhir-akhir ini Tamiflu sedang naik daun, tenar meroket dan mendapatkan publikasi gratis dari berbagai media massa di seluruh dunia. Orang-orang yang sebelumnya tidak pernah mengenal Tamiflu pun, seperti saya tentu saja, sekarang tahu bahwa ada obat flu yang bernama Tamiflu yang bisa mencegah pandemik dan bahkan sangat direkomendasikan untuk kasus-kasus tertentu, seperti kasus flu babi saat ini.
Tamiflu adalah obat flu berbentuk kapsul yang diproduksi oleh Roche Laboratories Inc. Obat ini mengandung oseltamivir phospate, yaitu salah satu senyawa yang dapat menghambat perkembangbiakan virus pembawa flu di dalam tubuh manusia. Tentu saja, ada masa di mana Tamiflu masih bisa efektif menjalankan fungsinya, yaitu jika seseorang minum Tamiflu dalam kurun waktu 48 jam setelah ia pertama kali menyadari adanya gejala flu dalam tubuhnya.
Tidak semua jenis virus flu bisa kalah oleh Tamiflu. Menurut situs WHO, ada virus flu yang tidak kuat berhadapan dengan inhibitor neuraminidase (seperti oseltamivir dan zanamivir) dan ada yang pula yang bisa dicegah oleh adamantane (seperti amantadine dan rimantadine). Dalam kasus virus flu babi alias virus H1N1 yang berjangkit di Meksiko dan menyebar ke berbagai negara baru-baru ini, hasil test menunjukkan bahwa virus itu cenderung resisten terhadap adamantane, namun bisa diperlambat oleh oseltamivir.
Berdasarkan hasil tes atas reaktivitas virus H1N1 terhadapa obat aniviral di laboratorium, WHO kemudian merekomendasikan agar orang-orang yang terkena virus H1N1 untuk minum obat flu antiviral yang mengandung oseltamivir. Demi mencegah berjangkitnya virus H1N1, Roche Laboratories Inc pun kemudian mengambil inisiatif untuk menyumbangkan Tamiflu kepada negara-negara yang tidak sanggup membeli. Oleh karena itulah Tamiflu masuk berita di berbagai media massa dan menjadi lebih tenar.
Masih menurut situs WHO, virus H1N1 sendiri adalah virus baru yang belum tentu bisa dicegah dengan menggunakan obat antiviral secara sempurna. Sampai sejauh ini, baru ada sedikit pasien positif H1N1 yang diobati dengan menggunakan obat tersebut dan WHO sendiri terus memonitor kemajuan pengobatan mereka. Minimal untuk saat ini, ada secercah harapan bahwa Tamiflu bisa digunakan untuk mencegah pandemik H1N1.
Dua Pertanyaan yang Membuat Kepala Anda Sakit
20 Nov 2008 Leave a Comment
*Dua pertanyaan yang membuat kepala Anda sakit:
1. Apakah kita boleh membunuh 1 orang untuk menyelamatkan 5 orang?
Skenarionya adalah demikian: Misalkan Bill adalah manusia sehat yang sebatang kara, tak memiliki keluarga, saudara maupun teman. Bolehkah ia dibunuh agar organnya yang masih sehat dapat dipergunakan untuk menolong 5 orang lain yang sakit? Misalnya, kelima orang itu membutuhkan jantung, paru-paru, ginjal dan hati Bill.
Jika Anda tidak bisa menjawab pertanyaan di atas, coba pikirkan skenario kedua, seperti demikian: Anda diculik bersama dengan 5 orang lain. Sang penculik mengatakan bahwa Anda semua yang tersisa akan dibebaskan, jika Anda menembak salah satu dari 5 rekan Anda yang menjadi korban penculikan. Jika Anda tidak bisa melakukanya, si penculik akan membantu Anda, tapi ia akan menembak kelima orang itu dan Anda tetap akan dibebaskan. Apa pilihan Anda?
Masih belum bisa menjawab? Jika demikian, pertimbangkan skenario ketiga: Anda satu-satunya orang yang melihat sebuah kereta yang sedang melaju kencang. Jika arah kereta itu tidak dibelokkan, maka 5 orang yang sedang terikat di rel akan terlindas. Anda bisa memilih untuk menyelamatkan kelima orang itu, tetapi hanya bisa dengan membelokkan kereta tersebut ke rel di mana ada 1 orang yang juga sedang terikat. Nah, mana yang akan Anda pilih, membiarkan kereta melindas kelima orang itu atau membelokkannya ke rel yang berisi 1 orang?
2. Betulkah Anda adalah diri Anda?
Seandainya Anda melihat sebuah foto yang Anda yakini adalah diri Anda sendiri 8 tahun yang lalu. Apakah orang itu adalah benar diri Anda sendiri? Tahukah Anda bahwa sel tubuh kita akan digantikan setiap 7 tahun? Sel-sel tubuh kita 8 tahun yang lalu sudah mati dan sel tubuh yang sekarang berlainan dari sel tubuh 8 tahun yang lalu.
Jika Anda masih yakin bahwa manusia itu adalah diri Anda, bagaimana seandainya jika seorang dokter bedah memindahkan otak Anda ke diri George W. Bush di Gedung Putih? Saat Anda tersadar, bukankah Anda bukan G.W. Bush walaupun Anda berada di dalam badannya? Jika demikian, maka otak Andalah yang sebenarnya yang menjadi identitas “diri Anda”. Namun, betulkah otak itu yang menjadi identifikasi Anda? Bukankah sebenarnya otak itu berisi memori yang membuat Anda sadar bahwa Anda adalah “diri Anda”. Jika demikian, maka Anda tak lebih daripada hanya sekedar memori saja, bukankah demikian?
Nah, cukup 2 pertanyaan saja deh…
*Disadur dari BBC.
Teknologi PETROBRAS: Buah Riset Sekitar 50 Tahun
24 Aug 2008 1 Comment
Mula-mula Tupi, kemudian Carioca, kedua temuan minyak di laut dalam milik Brasil membuat heboh dunia perminyakan sejak akhir tahun lalu. Kedua prospek yang sudah dibor itu terletak di laut dengan kedalaman sekitar 2000 m dan ditutup oleh sedimen dan garam setebal sekitar 5 km. Reservoir berada di kedalaman sekitar 7 km dari permukaan laut.
Konon, perhitungan awal jumlah minyak+gas yang ada temuan di struktur Carioca (BM-S-9) adalah 33 triliun boe, demikian menurut informasi yang berhasil didapatkan Rigzone.com. Tupi (BM-S_11), yang telah dibor lebih dulu, menyimpan 5 triliun bo, dan bersama gas menjadi sekitar 8 triliun boe. Bulan Juni dan Agustus tahun ini Petrobras kembali mengeluarkan pengumuman temuan minyak secara berurutan di struktur Guara (BM-S-9) dan temuan “material” di struktur Lara (BM-S-11). Entah apa arti temuan “material” itu. Usaha Petrobras untuk membuka potensi migas di wilayah frontier laut dalam cekungan Santos sejak tahun 2006 sekarang membuahkan hasil manis.
Selain besarnya angka potensi migas yang tersimpan di wilayah operasi Petrobras, kedalaman reservoir yang menjadi target dan kedalaman laut di mana tantang teknologi pengeboran sangat tinggi, ada sebuah poin lain yang membuat penemuan itu signifikan. Poin ini adalah kesuksesan Petrobras membuktikan ide mencari potensi migas di bawah lapisan garam dengan dibantu oleh program Pemodelan Cekungan secara 2D & 3D yang baik.
Fondasi Kesuksesan
Dari mana Petrobras mendapatkan fondasi yang menunjang kesuksesan mereka saat ini? Selama 45 tahun, sampai dengan th 1998, Petrobras memonopoli hak untuk mengeksplorasi, memproduksi, mengilang, mendistribusikan, menjual dan membeli migas di Brasil. Persis banget dengan peran NOC alias National Oil Company model jaman pil kiplik.
Di tahun 1998 National Petroleum Agency (ANP) mengumumkan bahwa lebih dari 92% cekungan sedimen di Brasil akan ditawarkan kepada perusahaan minyak swasta. Petrobras juga diprivatisasi dan saat ini pemerintah Brasil hanya memiliki saham sebanyak 51%.
Selama ini, Petrobras selalu direcoki oleh kepentingan politik penguasa, persis seperti kebanyakan NOC di dunia. Sejak privatisasi sampai dengan th 2005, Petrobras berhasil menghindarkan diri dari pengaruh tak sehat perpolitikan, namun belakangan ini, Presiden Lula da Silva mulai bermain-main sedikit, dengan cara mengharuskan Petrobras mengutamakan produksi dalam negeri, seperti saat membangun fasilitas produksi dan penyimpanan terapung alias FPSO (Floating Production Storage & Off-loading).
Kesuksesan Petrobras di bidang teknologi pembuatan FPSO dan temuan migas di laut ultra-dalam adalah juga buah kerja keras pusat riset mereka, CENPES. Petrobras juga selalu mengirimkan karyawan-karyawan terbaik mereka untuk dididik di universitas terkemuka di luar Brasil, demi mengambil ilmu dan teknologi dari luar, memodifikasi teknologi itu dan kemudian menerapkannya di Brasil sesuai dengan kondisi alam yang mereka hadapi.
CENPES Petrobras
Cikal bakal CENPES adalah CENAP, yang didirikan pada tahun 1955. Saat baru berdiri, CENAP diberi tugas mempromosikan kursus-kursus bagi karyawan Petrobras dan juga memusatkan perhatian pada riset teknologi, terutama yang berkaitan dengan modifikasi kilang minyak agar bisa digunakan untuk mengolah minyak Brasil yang lebih berat daripada minyak yang diimpor dari Timur Tengah.
Pada tahun 1963, para direktur Petrobras memutuskan bahwa CENAP hanya akan bergerak di bidang riset dan pengembangan. Nama CENAP kemudian diganti menjadi CENPES pada th 1973. Pada tahun itu juga, CENPES mendapatkan pinjaman tanah dari Federal University of Rio de Janeiro untuk membangun pusat riset dekat universitas tersebut, sehingga pertukaran informasi dan kerjasama ilmiah dapat berlangsung lebih efektif.
Pada tahun 1992 dan juga di tahun 2002, CENPES mendapatkan penghargaan sebagai Pusat Riset Terbesar di kawasan Amerika Selatan dari Offshore Technology Conference. Berdasarkan laporan perusahaan Petrobras, sampai dengan akhir th 2005, CENPES memiliki 1569 staff, 350 orang pernah mendapatkan pendidikan Master dan 130 orang memiliki kualifikasi doktor. Tenaga kerja CENPES juga meliputi para spesialis dengan pengalaman puluhan tahun.
Teknologi pembuatan FPSO yang bisa beroperasi di laut dalam adalah salah satu spesialisasi CENPES. FPSO milik Petrobras diakui cocok untuk dipergunakan di kawasan seperti Teluk Meksiko yang selalu dilewati badai. Jika badai datang, produksi bisa dihentikan dan FPSO ditarik dengan cepat ke kawasan yang lautnya lebih tenang.
Di bidang R&D, CENPES memprioritaskan 3 jenis riset, yang meliputi meningkatkan produksi minyak berberat jenis tinggi di lepas pantai, mengembangkan teknologi eksplorasi & produksi di kawasan laut ultra-dalam dan memperlambat penurunan produksi lapangan-lapangan tua. Seperti yang kita lihat pada saat ini, Petrobras sudah menjadi pionir dalam mengeksplorasi wilayah laut ultra-dalam dengan adanya temuan-temuan migas di cekungan Santos sejak th 2006. Mereka juga sudah mulai bekerja sama dengan StatOil Norwegia dalam rangka memperlambat penurunan produksi lapangan migas tua, sementara itu StatOil belajar teknologi pemasangan kepala sumur di dasar laut dari Petrobras.
Di tahun 2005, CENPES merestrukturisasi program R&D bidang eksplorasi mereka, dari yang semua hanya berupa kerjasama dengan universitas ke memfokuskan diri pada identifikasi target eksplorasi dan memaksimalkan probabilitas untuk menemukan migas serta mendeteksi resiko geologi prospek-prospek di laut ultra-dalam. Dengan demikian, CENPES sekarang telah secara langsung berpartisipasi dalam memecahkan tantangan eksplorasi Petrobras, bukan hanya di bidang produksi dan pengilangan minyak seperti yang mereka lakukan sebelum tahun 2005.
Restrukturisasi CENPES kemudian menghasilkan program Basin Modelling bernama Promob dan pembuatan bagian Geofisika. Promob dipergunakan untuk membuat model generasi, migasi dan akumulasi migas di cekungan sedangkan bagian Geofisika nanti akan berkonsentrasi pada seismik 4D guna memecakan permasalahan produksi di lapangan yang geologinya kompleks.
Apalagi buah kerja CENPES yang lain? Salah satunya adalah pengembangan teknologi biofuel dan berbagai patent. Lalu berapa budget R&D di tahun 2006? Sekitar US $ 700 juta.
CENPES akan terus memprioritaskan program Teknologi Laut Dalam, karena mereka hendak mempersiapkan fasilitas produksi bagi Petrobras di masa depan. Mereka hendak memproduksi temuan migas di laut ultra-dalam seperti yang ada di cekungan Santos dengan teknologi yang mereka buat sendiri. Apakah mereka akan sukses? Waktulah yang akan membuktikannya.
Sumberdaya Manusia di Petrobras
Kesuksesan Petrobras sekarang juga didukung oleh sumberdaya manusia yang mampu menguasai teknologi dan memodifikasi teknologi itu sesuai dengan tantangan yang mereka hadapi. Petrobras tampaknya selalu
mengedepankan pengembangan SDM, yang sebenarnya bukan resep baru alias resep ini adalah resep antik. Cuma, ada perbedaan antara tahu bahwa mengembangkan SDM itu penting dan betul-betul menerapkan tindakan untuk mengembangkan SDM itu.
Apa yang Petrobras lakukan untuk mengembangkan SDM mereka, khususnya di bidang geosains? Mereka bekerja sama dengan University of Texas at Austin, mengirimkan karyawan mereka untuk dididik di sana. Dalam kurun waktu 1968-2003, Utexas at Austin mendidik tak kurang dari 58 geosaintis Petrobras, termasuk 14 mahasiswa master dan 12 mahasiswa Ph.D.
Situs ini: http://www.jsg.utexas.edu/news/feats/2007/exploration_development.html
memuat cerita korelasi geosaintis didikan Utexas dengan kesuksesan eksplorasi Petrobras di wilayah lepas pantai. Tentu saja artikel ini bernada mempromosikan peran Utexas at Austin, karena SDM Petrobras tidak hanya dididik di Utexas at Austin saja. Universitas lain seperti Illionis at Urbana juga pernah mendidik periset CENPES.
Sekolah di Amerika Serikat itu, seperti yang kita ketahui, biayanya mahal. Oleh karena itu mereka juga mengirimkan staff mereka ke Eropa, seperti Uppsala University di Swedia, untuk belajar petrologi batupasir dari Prof. Sadoon Morad yang orang Iraq. Swedia masih menggratiskan uang kuliah, jadi Petrobras hanya perlu membayar biaya hidup karyawannya.
Petrobras sekarang juga memiliki Petrobras University untuk mendidik tenaga kerja baru mereka sendiri dalam bentuk kursus-kursus. Laporan tahunan Petrobras menunjukkan bahwa pada tahun 2005, ada 1216 orang karyawan baru Petrobras yang dididik di sana. Sebanyak 749 orang berhasil menamatkan kursus mereka. Petrobras University memiliki spesialisasi di bidang Teknik Perminyakan dan Teknik Proses, dimana kedua jurusan ini telah diakui oleh Kementerian Pendidikan Brasil.
Penutup
Sebagai penutup, saya ingin menggarisbawahi fondasi keberhasilan Petrobras sekarang. Yang pertama adalah penguasaan teknologi dan diadaptasikan sesuai dengan tantangan yang mereka hadapi. Biarpun pemerintah dan pulitik menginjak-injak Petrobras sebagai sebuah organisasi, mereka tidak pernah melupakan pusat riset mereka. Ketika situasi menjadi lebih baik, buah ketekunan mereka bisa dipetik.
Yang kedua adalah betul-betul mengembangkan SDM mereka, bukan hanya teori belaka. Biaya pengembangan SDM memang mahal, namun pasti ada cara untuk melewati tantangan seperti ini.
Yang ketiga, privatisasi vs nasionalisasi, privatisasi tidak selalu jelek dan nasionalisasi tidak selalu baik. Terbukti dari kasus Petrobras, nasionalisasi yang mereka jalani justru tidak membuat Petrobras lebih baik dan tidak membuat produksi migas mereka mencukupi kebutuhan mereka. Setelah Petrobras diprivatisasi sebagian, justru mereka bisa bergerak dengan lebih leluasa.
Rodinia, Pangaea, Laurasia & Gondwana 2
02 Mar 2008 Comments Off
Alfred Wegener & Teori Continental Drift
Tiga abad sebelum ALFRED LOTHAR WEGENER (1880-1930) membuktikan bahwa kemiripan garis pantai sebelah timur benua Amerika Selatan dengan pantai sebelah barat benua Afrika terjadi karena kedua benua itu pernah “bersatu”, ABRAHAM ORTELIUS pembuat peta asal Belanda telahmengamati fenomena yang sama dan berpendapat bahwa Amerika dipisahkan dari Eropa dan Afrika oleh gempa bumi dan air bah (1596).
Kemudian pada tahun 1858, seorang geografer bernama ANTONIO SNIDER-PELLEGRINI membuat 2 kartun model yang menunjukkan posisi dan bentuk benua Amerika Selatan dan Afrika sebelum dan sesudah terpisah.Modelnya aneh, terutama bentuk bagian selatan Argentina/Chile. Di kartun model versi Snider-Pellegrini ini, bagian Patagonia digambarkan tertekuk melengkung dari arah barat ke selatan kemudian ke timur dan berbalik ke utara, melingkari bagian selatan Afrika dan ujung
Patagonia dibuat hampir menyentuh Madagaskar. Entah Snider-Pellegrini serius atau tidak saat mengerjakan kartunnya, imajinasinya secara tidak langsung juga telah menunjukkan bahwa Amerika Selatan dan Afrika dulu pernah berdampingan.
Tapi imajinasi kedua orang yang baru diceritakan di atas tak pernah dilontarkan menjadi sebuah teori ilmiah sampai sekitar tahun 1910-an. Pada musim gugur tahun 1911, saat sedang menghabiskan waktu di perpustakaan Universitas Marburg (Jerman), Wegener menemukan makalah palaeontologi tentang kesamaan jenis fosil-fosil tumbuhan dan hewan di Amerika Selatan dan Afrika, padahal, kedua benua itu dipisahkan oleh
Samudera Atlantik yang luas. Rasa penasaran Alfred Wegener membuatnya mencari lebih banyak informasi mengenai kesamaan-kesamaan fosil di dua tempat terpisah tersebut, hingga akhirnya ia berpikir, “Mungkinkah kesamaan fosil-fosil di kedua sisi Atlantik terjadi karena dulu benua Afrika dan Amerika adalah satu kontinen?”
Menurut para ahli geologi saat itu, model evolusi pembentukan Samudera Atlantik cuma sederhana saja. Gundu bulat disangka baut, dahulu darat sekarang laut. Penyebabnya? “Cuma” karena “jembatan penghubung” kedua daratan itu kolaps kemudian sekarang menjadi dasar laut. Sadar akan model sederhana ini telah diterima sebagai sebuah kebenaran, Wegener berusaha mencari bukti-bukti geologi lebih banyak untuk mendukung teori yang hendak ia lemparkan ke forum ilmiah. Ia pun menemukan bahwa
Pegunungan Appalachian di bagian timur Amerika Utara tersambung dengan dataran tinggi Skotlandia (Highlands) dan perlapisan batuan Karroo System di Afrika Selatan identik dengan perlapisan batuan Santa Catarina System di Brazil. Wegener kemudian menulis sebuah buku yang berjudul “The Origin of Continents & Oceans” (judul asli dalam bahasa Jerman) pada tahun 1915, di mana teori Continental Drift dipublikasikan.
Wegener, yang sebenarnya adalah seorang astronomer (Ph.D Universitas Berlin, 1904) dan bekerja sebagai meteorologist, tapi memiliki hobi dibidang ilmu kebumian, segera menjadi sasaran cemoohan ahli-ahli geofisika dan geologi kala itu. Ahli ilmu kebumian memang manusia yang aneh. Mereka cenderung sulit menerima sebuah teori baru, maupun sekedar sebuah pendapat lain atas keyakinan mereka sendiri, hanya karena mereka tidak tahu atau tidak paham tentang apa yang orang lain bicarakan. Ketika sudah merasa menjadi seorang ahli, mereka berpikir sudah tahu tentang segala hal, apalagi jika apa yang mereka bela adalah “kebenaran umum” yang berlaku. Padahal, jalan pikiran mereka hanya berdasar atas konsep-konsep ilmu kebumian, data-data dan teknik
pengambilan data yang “ada” pada saat itu juga, bukan data dan alat baru yang ditemukan/diciptakan di masa depan.
Sikap emosional seorang ahli geologi bernama DR. ROLLIN T. CHAMBERLIN dari Universitas Chicago membuatnya menulis sebuah makalah berjudul “Some of the objections to Wegener’s theory” (1928) dan memulai tulisannya dengan pertanyaan, “Bisakah kita menyebut geologi sebagai sebuah ilmu jika ada perbedaan pendapat yang begitu hebat untuk hal-hal dasar hingga teori semacam ini terus berkeliaran?”. Dr.
Chamberlin berpendapat bahwa hipotesis Wegener sama sekali tak berdasar dan fakta-fakta yang Wegener paparkan hanyalah fakta yang aneh dan buruk, seperti sebuah permainan tanpa peraturan. Masalah terbesar di teori Wegener yang membuat para ahli menolaknya adalah mekanisme perpindahan kontinen yang menurut Wegener terjadi karena daratan bergeser dengan dasar laut sebagai bidang pergeserannya. “Gaya
sebesar apa yang bisa menarik daratan hingga terpisah begitu jauh di atas dasar laut sebagai bidang geser tanpa mematahkan dasar lautnya?” demikian tanya HAROLD JEFFREYS, ahli geofisika Inggris.
Ekspedisi-ekspedisi geologi dilakukan oleh Wegener pada tahun 1920, 1922 dan 1929 untuk mencari lebih banyak fakta guna mendukung teorinya. Dalam ekspedisi terakhir, Wegener tewas setelah berhasil mengantarkan suplai makanan kepada koleganya yang sedang melakukan penelitian di tengah belantara es Greenland, hanya beberapa hari
setelah ulang tahunya yang ke-50. Kelak, seperti yang telah kita ketahui, berawal dari eksplorasi permukaan laut dan kerak bumi, teori Continental Drift Wegener menjadi embrio bagi teori Tektonik Lempeng, di mana kerak bumi baik kontinen maupun kerak samudera ternyata bergerak di atas asthenosfer jadi bukan di atas dasar laut seperti
hipotesis Wegener.
Pangaea
Kontribusi Wegener bagi kelahiran teori Tektonik Lempeng di tahun 1960-an tentu tidak bisa diabaikan. Di buku “The origin of continents and oceans” edisi tahun 1920 (ada juga yang menyebutkan nama Pangaea sudah diperkenalkan sejak edisi 1915), Wegener berpendapat bahwa semua benua yang ada sekarang sebenarnya pernah bersatu sekitar 225 juta tahun yang lalu (Ma), yaitu pada Periode Trias Akhir (sudah masuk Era Mesozoik). Daratan maha luas ini ia beri nama Pangaea, sebuah kata dalam bahasa Yunani yang berarti “semua daratan”.
Rekonstruksi lempeng tektonik modern dengan menggunakan data palaeo-magnetik memperlihatkan Pangaea sudah menjadi daratan berbentuk seperti huruf “C” pada sekitar 255 Ma (Permian Akhir). Pusat superkontinen Permian ini adalah Afrika, sedangkan di sebelah barat ada Amerika Selatan, di baratlaut ada Amerika Utara, di utara
dan timur laut ada Eropa, Asia dan Cina Utara, sedangkan di tenggara dan selatan ada India, Antartika dan Australia. Di sebelah timur? Ada lautan bernama Tethys, dan terakhir di sebelah timurnya Tethys, ada Cina Selatan. Sedangkan laut mahaluas yang mengelilingi Pangaea dinamakan Panthalassa. Pusat superkontinen Pangaea ditengarai berada di sekitar garis ekuator, kira-kira seperti posisi Indonesia sekarang (tentu saja secara garis lintang).
Apa bukti keberadaan Pangaea selain rangkaian-rangkaian pegunungan yang identik seperti Appalachian-Scottish Highlands dan Karroo-Santa Catarina Systems seperti yang dikemukakan pertama kali oleh Wegener (1915)? Jawabannya adalah fosil-fosil genus Lystrosaurus dan genus Mesosaurus dan flora genus Glossopteris. Lystrosaurus adalah sejenis reptil pemakan tetumbuhan yang konon sebesar babi, dengan ekor lancip pendek, kaki pendek, daun telinga kecil dan kepala seperti harimau yang hidup pada Periode Permian-Trias. Entah palaeontologist mana yang berhasil merealisasikan imajinasi rupa Lystrosaurus ini, konon ia pernah hidup di Antartika, India, Afrika Selatan dan Cina.
Mesosaurus adalah sejenis reptil amfibi yang hidup di air tawar. Bentuknya kira-kira seperti cecak, tapi kepalanya seperti buaya, badannya fleksibel dan konon ekornya dapat digunakan sebagai semacam sirip untuk berenang. Tidak jelas berapa ukurannya dan hidup pada berapa juta tahun yang lalu. Fosil ini ditemukan di Brasil dan Afrika
bagian barat.
Superkontinen Pangaea lalu mulai terpecah pada Periode Trias Akhir-Juras (Vaughan & Storey 2007), menghasilkan dua superkontinen yang lebih kecil yaitu Laurasia dan Gondwana. Laurasia yang bergerak ke arah utara. Intra-continental rifting kemudian diikuti sedimentasi endapan darat lalu diisi oleh air laut, menjadi Laut Atlantik bagian
utara. Rift basins yang terbentuk saat Pangaea pecah masih bisa dilihat di bagian Central Atlantic Margin, baik sebelah Amerika Utara maupun Moroko (Olsen, 1997).
PS: diolah lagi dari berbagai sumber
Comments