Piala Dunia 2010
11 Jun 2010 Leave a Comment
in football
Pecinta bola di Indonesia pasti sedang dimanjakan oleh berbagai stasiun televisi yang menyiarkan pertandingan langsung partai-partai Piala Dunia 2010 dari Afrika Selatan. Di Spanyol, siap-siap kecewa jika tidak memiliki berlangganan digital Canal+. Stasiun lokal sangat pelit bok!
Ambil contoh, hari ini cuma ada 1 partai yang disiarkan secara langsung oleh stasiun tivi Spanyol. Partai pembuka antara Afrika Selatan dan Meksiko ditayangkan oleh Telecinco. Partai selanjutnya, yaitu Perancis melawan Uruguay, tidak ditayangkan oleh stasiun lokal manapun.
Duh, kuciwa deh!
Manchester United (1) – Liverpool (4)
15 Mar 2009 Leave a Comment
in football
Liverpool membungkam fans Manchester United di Theatre of Bad Dreams kemarin sore. Dengan mencetak skor yang telak banget, kubu MU digilas dengan 4 gol berbalas 1. Akitttttt…..
)
Champion Pretender – Setiap Tahun
10 Feb 2008 Leave a Comment
in football
Jadi fans Liverpool itu harus bisa mengganti “harapan” atau “mimpi” di paruh musim setiap tahun. Biasanya di awal musim kompetisi, target klub adalah juara liga. Seiring pertambahan minggu-minggu kompetisi, target juara liga itu biasanya akan turun, menjadi runner-up saja, 3 besar sampai akhirnya 4 besar.
Waktu penggantian target itupun bervariasi. Musim kompetisi Liga Inggris mulai berlangung pada bulan Agustus. Kadang sejak bulan Oktober fas Liverpool sudah harus mengubur mimpi klub mereka menjadi juara EPL. Musim ini target Liverpool menjadi juara liga terpaksa dikubur sejak bulan Nopember, lumayan deh, mundur 1 bulan. Ada kemajuan.
Kemudian sejak bulan Januari 2008, fans Liverpool hanya berharap “asal” LFC bisa masuk 4 besar saja sudah cukup, tidak perlu runner-up atau juara 3. Yang penting masih bisa berlaga di kompetisi Liga Champions Eropa tahun depan.
Begitulah Liverpool, klub yang selalu berharap menjadi juara EPL setiap tahun tapi gagal lagi-gagal lagi selama 18 tahun terakhir. Champion pretender club. Sigh….
Busyet deh, Kalah dari Reading
08 Dec 2007 Leave a Comment
in football
Tak ada gelar juara untuk Liverpool lagi musim ini. Kekalahan dari Reading, 3-1 malam ini, pada saat Arsenal kehilangan 2 poin, menunjukkan bahwa Liverpool tidak mampu memanfaatkan peluang-peluang untuk memperpendek jarak dengan pemuncak klasemen. Ketidakmampuan Liverpool untuk memanfaatkan peluang seperti ini bukan hanya yang pertama kali terjadi. Di musim-musim lalu, Liverpool juga demikian, loyo ketika peluang memperpendek jarak dengan pemimpin klasemen terbuka.
Entah mengapa, permainan Liverpool selalu berantakan ketika bertanding pada partai-partai penting seperti ini. Susunan pemain menjadi aneh, pemain bermain tidak karuan, pemain lawan bermain seperti kesetanan dan hasilnya Liverpool selalu kalah.
Sebagai fans Liverpool, kesempatan-kesempatan untuk menyalip di tikungan seperti ini lah yang membuat sebuah pertandingan menjadi lebih menarik. Fans ingin mengantisipasi kemenangan yang manis, dalam arti kemenangan yang membuat jarak antara Liverpool dengan klub-klub di atasnya menjadi lebih dekat. Tapi Liverpool selalu mampu membuat fansnya kecewa.
Reading bukanlah tim yang sekelas Chelsea, Arsenal dan Manchester United. Perbandingan antar pemain tentu saja dimenangkan oleh Liverpool. Tapi pada hari H pertandingan tim Reading dapat membuat gol lebih banyak daripada tim Liverpool. Tiba-tiba saja pemain Liverpool menjadi goblok. Kampret!
Rafa Benitez vs Arsene Wenger: Taktik Siapa yang Lebih Baik di Eropa?
17 Mar 2007 1 Comment
in football
Sebuah diskusi hangat di forum fans Liverpool Indonesia ini membahas tentang siapa yang “lebih baik” di Eropa antara Rafael Benitez dan Arsene Wenger. Diskusi ini muncul setelah artikel Phil McNulty berjudul “Benitez Lebih Bersinar daripada Wenger” dimuat di BBC setelah Liverpool melewati Barcelona sedangkan Arsenal digagalkan PSV Eindhoven di babak 16 besar UCL 2006/2007.
Artikel Phil McNulty
Perbandingan yang dilakukan oleh Phil McNulty sendiri awalnya adalah kiprah kedua manager dalam semua kompetisi musim ini, yang meliputi Carling Cup, FA Cup, Barclay EPL dan UCL. Pada bulan Januari lalu Rafa ditertawakan oleh para kolega Phil (wartawan, karena kalah beruntun dari Arsenal dan kebobolan 9 gol), sekarang Arsenal dan Arsene Wenger sudah pasti tidak meraih satu gelarpun tahun ini, sedangkan Rafa Benitez dan Liverpool masih memiliki harapan di ajang UCL. Seseorang mengartikan artikel Phil itu membicarakan tentang “siapa yang tertawa sekarang?” Apakah “manager yang berhasil mengalahkan Barcelona di UCL dengan sengaja mengorbankan dua kompetisi lokal” atau “manajer yang sekarang musimnya ‘gagal total’ karena berusaha mengejar semua gelar”. Ia pikir, kalau “Cuma” quarter final vs babak 16, tapi sama-sama hampa gelar, masak manager yang satunya sudah ditertawai sekarang? Kan masing-masing belum menuai gelar apapun musim ini, mendingan nanti saja tunggu sampai akhir musim “ketika sudah memenangkan trofi UCL” yang jadi juara tertawalah sepuas-puasnya.
Kemudian Phil membandingkan “taktik” Benitez dan Wenger di babak 16 besar UCL 2007. Menurut Phil sendiri, dalam pertandingan melawan PSV, anak-anak asuhan Wenger tidak bisa mengkonversi peluang mereka menjadi gol, sedangkan Benitez dipuji karena “he deals with small details to meticulously plot Barcelona’s downfall” oleh karena itu taktik Wenger, the free flowing Pass and Movenya Wenger itu – yang sebenarnya jalan tapi tidak membawa hasil/kemenangan karena anak-anak asuhannya tidak bisa mengkonversi peluang mereka menjadi gol – lebih jelek daripada taktik Benitez yang memberikan hasil maksimal. Wenger kemudian dicap “tactically naïve”.
Phil, yang sudah mengamati masalah Wenger dalam pertandingan itu (vs PSV) adalah timnya tidak bisa mengkonversi peluang menjadi gol, kemudian menyalahkan pelatihnya yang salah taktik, seolah-olah jika Wenger merubah strateginya, timnya akan lebih sukses mengkonversi peluang mereka atau timnya akan lolos ke perempat final juga. Lho kok? Gaya sepakbola Wenger sendiri adalah ofensif bukan pressing-defensive model Benitez, sehingga merubah taktik yang biasa mereka mainkan dan meniru Benitez justru bukan menerapkan “strength” tim Wenger. Malah bunuh diri toh? Kalau (taktik) tim Wenger sudah menghasilkan peluang yang “jika dikonversikan seharusnya membuat mereka telah lolos ke perempat final” kemudian sekarang menurut Phil taktik Wenger salah berarti Phil melimpahkan kesalahan pemain ke managernya dan menyimpulkan bahwa pelatih yang lolos ke perempat final UCL otomatis punya taktik yang lebih baik daripada pelatih yang gagal lolos. Seharusnya Phil tidak melimpahkan kesalahan kepada sang manager, cukup katakan saja Arsenal kalah karena pemainnya yang tidak bisa mengkonversi peluang mereka menjadi gol.
Diskusi kemudian melebar ke mana-mana dan membingungkan karena alasan perbedaan pendapat tidak jelas dan alurnya juga lebih tidak jelas. Demi memuaskan pemirsa di forum dan mencegah mereka meracuni diri sendiri dengan Panadol, perlu ada penjelasan yang lebih bisa diterima pemirsa mengapa ada pendapat Wenger “tactically as good as” Benitez in Europe.
Perbandingan awal Wenger dan Benitez di Eropa
Membandingkan 2 manager akan lebih mudah jika tim mereka saling berhadapan. Wenger vs Benitez selama ini saling mengalahkan di kompetisi domestik terutama EPL (kompetisi utama, sedangkan Carling Cup dan FA Cup tidak dimasukkan dalam hitungan karena mereka biasanya menurunkan tim lapis kedua). Kata orang “The table never lie”. Tapi perbandingan ini tidak bisa digunakan karena scope yang dibicarakan berada di tingkat Eropa.
Sebagian berpendapat, sebaiknya diukur dari jumlah trofi UCL+UEFA Cup yang dimenangkan + skala waktu mencapai kemenangan yang sesingkat mungkin. Rafa Benitez, didukung oleh catatan sejarah yang memukau di kompetisi Eropa, diyakini jelas lebih brilliant merencanakan strategi untuk memenangkan trofi daripada Arsene Wenger yang sudah berusaha mencoba 9 tahun berturut-turut dengan Arsenal tapi tidak pernah berhasil meraih gelar apapun. Sejarah yang menunjukkan bahwa Rafa memenangkan UEFA Cup dan UCL masing-masing dengan klub dari negara yang berbeda memperkuat keyakinan ini.
Sampai disini, perbandingan kasar kedua manager yang saling mengalahkan di kompetisi domestik dan salah satu manager pernah membawa timnya masuk final 2 kali (dalam 9 tahun) sedangkan manager yang lain pernah masuk final 2 kali dan menang (dalam 5 tahun), yang satu menggunakan gaya bermain yang orang-orang anggap lebih sulit berhasil (offensive, free flowing pass and move), sedangkan yang satunya mengorbankan sepakbola cantik untuk meraih kemenangan (well organized dan physical), satu manager menang UCL lewat adu penalti dan UEFA Cup sedangkan manager lain kalah final UEFA Cup lewat adu penalti, hampir menang UCL, kira-kira tactically mereka as good as each other. Result-wise, there is no doubt Benitez got better results than Wenger did.
Perbandingan kira-kira ini dilakukan juga karena kalah dan menang itu bukan hanya ditentukan oleh faktor taktik manager saja. Minimal ada faktor penerapan strategi permainan oleh pemain, faktor mental (determinasi dan dukungan fans), dan keberuntungan. Pengalaman manager berlaga di kompetisi itupun tidak bisa menjadi bekal yang paling menentukan untuk memenangkan trofi UCL, karena saking enggak bisa diprediksinya, setiap tahun klub mengganti pemain, mem-fine-tune taktik, pemain inti cedera, pemain bintang “off form”, pemain dilarang bertanding dan hal-hal kompleks lain yang bikin mumet. Yang bisa dijadikan patokan adalah pemain mana yang tersedia, bagaimana manager itu ingin timnya bermain sesuai dengan gaya sepakbola mereka masing-masing menjelang hari-H pertandingan dengan pemain yang tersedia dan bagaimana mengatasi taktik lawan.
Perbandingan yang “kira-kira” ini ternyata tidak akurat banget, karena niat awalnya adalah membandingkan “manager mana yang lebih bagus”, kok malah bilang managernya sama saja dan memasukkan variabel lain. Kata pemirsa, jika mau membandingkan manager dengan manager, maka faktor lain yang berpengaruh pada hasil pertandingan kudu harus mau tidak mau terpaksa wajib dihilangkan. Jadi, analogi metode pengambilan kesimpulan yang dihendaki adalah demikian:
Jika
10 = A + B + C + D
dan
50 = A + B + C + D
dimana 50 adalah hasil Benitez dan 10 adalah hasil Wenger, A adalah faktor taktik manager, dengan asumsi yang kudu harus dipergunakan B+C+D = 0 atau tidak signifikan maka A milik Wenger bisa dibandingkan dengan A milik Benitez. Jika 50 itu jumlah kemenangan maka Wenger tidak sebaik Rafa Benitez di Eropa.
Lalu apakah ada cara lain untuk menilai masing-masing manager ini? Mari kita coba lihat lebih dalam sedikit.
Definisi dan Batasan-Batasan
Apa yang sedang dibandingkan?
Yang sedang dibandingkan adalah ahli pemecah batu tradisional dengan ahli dinamit. Si ahli dinamit, begitu melihat sebongkah batu langsung ambil dinamit, ledakin, beres, dan teriak “Next!”. Si pemecah baru tradisional mau mecahin sebongkah batu saja susahnya minta ampun. Disuruh pake dinamit saja dia bilang enggak mau, caranya lebih rapi dan hasilnya lebih indah. Mungkin dia memang tidak bisa menggunakan dinamit atau mungkin dia memang keras kepala.
Tim kedua orang manager ini memiliki “strength” berbeda. Strength tim Wenger adalah permainan terbuka/ofensif menggunakan powerful running, passing and movement. Strength tim Wenger ini sekaligus juga weakness mereka. Asumsi umum yang berlaku di kompetisi tingkat Eropa adalah, bermain terbuka sama dengan mengundang masalah karena prinsip utama yang dipegang untuk sukses di Eropa adalah pertahanan yang kuat karena keberadaan “away goal rule” di mana tim tidak mau kebobolan lebih dulu.
Strength Benitez adalah well organized defence, pressing ketat dan direct counterattack. Benitez juga suka timnya bertahan lebih tinggi, jauh dari gawang sendiri dan strikernya melakukan pressing sebagai garis depan pertahanan timnya.
Wenger, konon, adalah orang yang teguh memegang prinsip, hanya ingin memainkan gaya sepakbolanya sedangkan Benitez pragmatis, prekk dengan gaya permainan yang penting menang/lolos.
Dengan karakteristik/filosofi manager yang berbeda, bagaimana mengukur manager mana yang lebih baik (better, worse, as good)?
Apa definisi “a good manager”?
Setelah mengeliminasi faktor lain diluar manager, pada saat membandingkan dua manager dan menyimpulkan salah satu “is better than the other one”, kriteria yang bisa digunakan adalah:
1 Keberhasilan strategi yang mereka gunakan ketika menghadapi manager yang sama dalam pertandingan sistem kompetisi penuh tingkat Eropa (perbandingan keberhasilan “approach” mereka ketika menghadapi masalah yang sama, dengan jumlah pertandingan yang sama).
2 Hasil head to head mereka sendiri
3 Dalam situasi lawan masing-masing manager berbeda sama sekali, hal yang bisa dinilai adalah bagaimana mereka menggunakan “strength” mereka untuk memanfaatkan kelemahan lawan masing-masing dan berhasil menjalankan taktiknya (dengan menggunakan gaya sepakbola mereka masing-masing).
4 Seberapa sukses respon mereka terhadap pergantian taktik di tengah pertandingan (agar tidak terlalu kompleks, asumsi yang digunakan adalah pergantian taktik di waktu jedah setelah babak 1)
5 Hasil maksimal mereka dalam sebuah kompetisi yang mereka ikuti
Metodologi
Bagaimana taktik seorang manager dinilai tepat dalam suatu pertandingan? Hal yang biasa dilakukan adalah menilai jalan dan hasil pertandingan karena hasil pertandingan sendiri tidak mencerminkan sebuah taktik berhasil atau tidak.
Poin selain no 3 di atas tampaknya jelas. Khusus untuk poin no 3 skenarionya adalah demikian:
Manager dianggap berhasil menerapkan taktiknya pada saat timnya:
- menang
- seri
Hasil seri dimasukkan karena dalam kompetisi di tingkat Eropa yang menggunakan “away goal rule”, hasil imbangpun masih bermanfaat.
Demi mendapatkan sebuah perbandingan dan mengingat semua pemirsa menyukai matematika, maka angka-angka harus dipergunakan, karena membandingkan sesuatu “tanpa angka” ternyata sangat membingungkan.
Hasil Analisis
Poin no 1 dan 2
Data di ambil dari kompetisi UCL th 2002/2003. Arsenal berada di urutan 3 di bawah Valencia dan Ajax. Ini berarti Rafa Benitez lebih bagus daripada Wenger ketika menghadapi masalah yang sama dengan Wenger. Tim Wenger sendiri ditahan tim Rafa di kandang (0-0) dan kalah 2-1 di Valencia. Dengan demikian Rafa Benitez lebih unggul daripada Wenger. Skor 2-0 untuk Rafa Benitez.
Poin 3
Data yang diambil berasal dari semua pertandingan di UCL yang pernah dijalani kedua manager. Pertandingan di UEFA Cup sendiri tidak dimasukkan karena UEFA Cup adalah kompetisi kelas 2 di Eropa, tidak sekuat Champions League dan sebaiknya tidak langsung dibandingkan dengan hasil pertandingan UCL (walaupun scope diskusi di Eropa). Data dari UEFA Cup dieliminasi akan lebih fair karena Wenger sendiri masuk ke UEFA Cup setelah gagal di UCL, jadi sebaiknya perspektif “gagal di UCL” digunakan bukan “sukses di UEFA Cup”.
Perbandingan dilakukan dalam 2 tingkatan:
1. Seluruh hasil Wenger (1998/1999 to 2006/2007) vs Seluruh Hasil Rafa (2002/2003-2006/2007)
2. Hasil Wenger vs Rafa (2002/2003-2006/2007)
Hasil perbandingan adalah sbb:
1. All time comparison (Hanya UCL)
Rafa: 43 (P); 23(W), 12 (D), 8 (L)
Wenger: 89 (P); 39 (W), 26(D), 24 (L)
Kalau dipersentase:
Rafa: 53.5 (W), 27.9% (D), 18.6% (L)
Wenger: 43.8% (W), 29.2% (D), 27% (L)
2. 2002/2003 to 2006/2007 (Hanya UCL)
Rafa: 43 (P); 23(W), 12 (D), 8 (L)
Wenger: 51 (P); 23 (W), 18(D), 10 (L)
Kalau dipersentase:
Rafa: 53.5 (W), 27.9% (D), 18.6% (L)
Wenger: 45.1% (W), 35.3% (D), 19.6% (L)
Kesimpulan: Rafa Benitez lebih baik
Poin 4
Respon manager di tengah pertandingan……
Lho kok udah 3-0 buat Rafa? Wah udah deh daripada buang waktu stop saja sampai di sini. It’s official Rafa Benitez is tactically better than Arsene Wenger in Europe.
Comments