Pasir Timah sekarang adalah Petaka

Pasir timah antar Ipan ke hotel prodeo.“, demikian tulis situs Kompas Online hari ini, 10 Juni 2009. Ipan (34), warga Kampung Ketapang, kecamatan Toboali, tertangkap oleh polisi ketika hendak membeli 60 kg pasir timah ilegal di pelabuhan Sadai pada tanggal 6 Januari 2009. Ia akan dijatuhi hukuman 6 bulan penjara dan denda Rp 500.000,00.

Kasihan, menggenaskan, semua demi sesuap nasi, menghidupi anak-istri dan membantu keluarga (tapi mungkin juga demi segenggam berlian?).

Pasir timah sekarang tidak lagi membawa berkah bagi warga Bangka sejak penambangan ilegal dilarang dan diganjar dengan hukuman penjara atau denda. Sebelum tahun 2008-an, penambangan ilegal sangat marak di Bangka Selatan sana, bahkan penambangnya berasal dari luar Bangka sendiri, baik dari pulau Sumatera maupun dari pulau Jawa. Ada yang kaya raya berkat pasir timah dan ada juga yang kehilangan nyawa.

Bagi warga setempat, mencari pekerjaan tetap dengan penghasilan layak adalah hal yang cukup sulit, apalagi jika hendak menikmati hidup dengan memiliki rumah yang cukup terpandang, memiliki kendaraan pribadi dan berbagai peralatan elektronik.

Sumber pemasukan bagi warga lokal di Bangka Selatan sana adalah terutama berkebun lada, memanfaatkan hasil laut atau menjadi karyawan tambang timah. Selama ini tidak ada pabrik yang dapat memberikan tempat bekerja sekaligus untuk orang banyak. Banyak tenaga kerja produktif yang tidak termanfaatkan dengan maksimal, kecuali mereka berkebun atau merantau ke luar daerah.

Pariwisata juga belum tertata dengan baik dan tampaknya tidak berkembang sampai sejauh ini. Banyak pantai indah yang berpotensi menjadi lokasi pariwisata, tetapi akses ke sana dan fasilitas yang memadai tidak tersedia.  Lokasi Toboali yang cukup jauh dari airport terdekat (125 km dari Pangkal Pinang), tansportasi antar kota yang hanya seadanya dan jalan penghubung yang kurang mulus sungguh bukan merupakan hal positif yang bisa dijadikan alat promosi untu menarik minat turis.

Pada saat pasir timah masih boleh ditambang dengan bebas, beberapa warga lokal yang mujur bak mendapatkan durian runtuh. Ada yang sukses membeli mobil baru, membangun rumah mahal dan memiliki banyak uang deposito di bank. Berkat keberhasilan beberapa orang yang mujur, warga lain berduyun-duyun mengadu nasib menggali pasir timah. Semua bekas lokasi penambangan timah yang pernah ditinggalkan oleh tambang besar, termasuk PT Timah, segera menjadi sasaran penambang liar. Akibatnya, tanah Bangka yang sudah berlubang-lubang menjadi lebih parah. Pengrusakan lingkungan tidak terkendali dan pemerintah daerah tidak bisa berbuat banyak.

Namun sekarang, pemerintah daerah sudah berani tegas, penambang ilegal akan ditangkap dan dihukum. Pasir timah sekarang bisa membawa petaka. Tapi, satu masalah terselesaikan, sedangkan masalah ketiadaan pekerjaan masih tetapi ada.  Bagaimana sebaiknya yah?

11 Mei – Duka di Tahun 2009

11 Mei 2009, sekitar jam 1 siang waktu Madrid, sebuah sms datang dari adik perempuanku yang berada di Jakarta.

Kungkung kami telah meninggal dunia. Kungkung yang pernah merawatku selama 4 tahun pertamaku di dunia.

Selamat jalan Kung, semoga kesalahan dan kekhilafan Kungkung selama hidup akan diampuni oleh Bapa. Kami semua ikhlas melepas kepergian Kungkung, terima kasih atas bimbingan dan cinta yang Kungkung berikan kepada kami selama ini.

Bapa semoga Engkau menerima Kungkungku di sisi-Mu, amin.

Kicau Burung Telah Hilang

Kampung saya di ujung selatan pulau Bangka adalah tipikal sebuah kota kecamatan kecil di luar pulau Jawa. Jalan beraspal cuma ada sekitar 5 km, masih banyak jalan beralaskan tanah liat, tiang telpon terbuat dari kayu dan tiang listrik tidak ada, kecuali di sekitar komplek perumahan pegawai UPTB, Unit Penambangan Timah Bangka.

Semak belukar, ilalang dan hutan karet masih terlihat tidak jauh dari pusat kota, bahkan kadang ada kebun lada. Rumah masih jarang-jarang, pohon tinggi dan rimbun masih banyak. Jumlah mobil bisa dihitung dengan jari (maksud saya jari kaki dan tangan beberapa orang, tentu saja bukan jari tangan saya sendiri), motor adalah barang mewah dan sepeda masih digunakan banyak orang. Tapi ini adalah gambaran kampungku sekitar 20-25 tahun yang lalu, tahun 80-an. Sekarang? Sudah jauh berbeda.

Populasi rumah bertambah rapat, orang bertambah banyak, termasuk pendatang dari luar pulau Bangka, terutama dari pulau Jawa yang diekspor oleh almarhum Pak Harto. Jalan beraspal sampai puluhan km, PLN masuk kampung, jumlah mobil bertambah, sepeda motor apalagi….eksponensial, ribuan, dibeli seperti orang membeli kacang goreng, laris manis.

Di saat yang sama, hutan-hutan ditebang untuk lahan perkebunan, hutan dalam kota juga dibuang untuk dijadikan lahan perumahan, deru suara sepeda motor bertambah kencang dan lebih sering, kecelakaan di jalan raya bertambah banyak. Batas kota berkembang, wilayah-wilayah yang awalnya adalah hutan tempat burung-burung bermain sekarang digantikan oleh rumah-rumah. Burung-burung perlahan-lahan lenyap, entah karena tempat mereka hidup yang hilang atau karena ditembak orang-orang dengan menggunakan senapan angin.

Di depan rumah kami, yang dulunya adalah hutan karet pada saat saya masih SD dan SMP, sekarang telah ditebang dan menjadi lahan untuk 3 rumah tinggal dan 1 rumah walet. Pandangan menjadi terbuka, kicau burungpun hilang dari dekat rumah kami. Saat bangun pagi, tak ada lagi suara burung barang seekorpun.

Inilah harga yang harus dibayar oleh proses pengembangan wilayah yang tidak memperhatikan keseimbangan lingkungan. Sebuah kota kecil yang seharusnya masih memiliki pepohonan telah kehilangan kicau burung-burung yang dulu hidup bersama manusia-manusia di sekelilingnya. Situasi seperti ini tidak seharusnya terjadi di sebuah kota kecamatan kecil di pelosok sebuah pulau karena orang-orang yang berada di kota besar justru ingin membuat kota mereka lebih hijau dan sengaja menaruh burung-burung agar mereka bisa memberikan suasana yang lebih alami.

Tak ada lagi kicauan burung yang membangunkan tidur di pagi hari pada saat saya pulang ke sana. Sayang sekali.

Resep Masakan Bangka 2

Resep masakan Bangka bagian kedua, seperti yang dituturkan oleh Ibunda kepada saya.

(A). Lempah darat

Bumbu: terasi, cabe dan garam

Cara memasak: tumbukkan semua bumbu, masukkan sayuran dan rebus. Mudah sekali.

(B). Sawi rebus

Bumbu: bawang putih, minyak goreng dan garam

Cara memasak:

1. Pergunakan minyak sedikit untuk menggoreng bawang putih

2. Angkat bawang putih, kemudian rebus tangkai sawi

3. Masukkan daun sawi ketika hampir mendidih, kemudian masukkan bawang putih ketika mendidih

4. Tambahkan bakso sebagai variasi

(C). Sup

Bumbu/bahan sup: garam, lada dan bumbu sup instant, sayuran (wortel, kol, kentang) dan daging ayam (plus bawang goreng)

Cara memasak: tambahkan semua bumbu, masukkan yang paling keras lebih dulu , kemudian direbus, jangan lupa dagingnya.

Resep Masakan Bangka 1

Berikut ini saya tuliskan resep masakan Bangka, yang saya peroleh dari Mama, dan belum pernah saya coba sendiri. Bagian pertama dulu yah.

(A). Asem Pedes

Bumbu: laos, cabe besar, kunyit, bawang merah, bawang putih (sedikit/kecil), terasi

Cara memasak:

1. Tumbuk bumbunya lalu digoreng (pertama tumbuk laos, kunyit dan cabe; lalu masukkan bawang merah, bawang putih dan terasi)

2. Tambahkan sedikit gula pasir

3. Masukkan ikan, dengan api kecil saja

4. Tambahkan air asam jawa dan sedikit air, jangan lupa tambahkan garam

(B). Lempah Kuning

Bumbu: sama dengan di atas tetapi tanpa bawang putih (jangan lupa terasi dan asam jawa)

Cara memasak:

1. Tumbuk semua bumbunya

2. Rebus dengan air secukupnya

3. Masukkan ikan, tambahkan garam dan sedikit gula pasir

(C). Chap Choy

Bumbu/bahan: bawang putih, tomat, kol, wortel, mentimun, bakso ikan/daging ayam

Cara memasak:

1.  Bawang putih dioseng-oseng dalam minyak panas, tunggu sampai kuning kemudian masukkan sayuran, dimulai dari yang paling keras

2. Tambahkan air sedikit

3. Masukkan kecap asin, gula, saos tomat dan garam secukupnya

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.