Merusak Pemandangan
05 Dec 2008 Leave a Comment
in Australia
Saat masih tinggal di 11 Coane Street, Oakleigh East, VIC 3166 (Australia); saya dan teman-teman pernah diberi sehelai “friendly letter” oleh salah seorang tetangga. Entah siapa, entah tetangga yang tinggal di rumah yang mana. Kami tidak pernah tahu, bahkan hingga sekarang.
Ceritanya berawal dari komentar seorang sahabat, yang kira-kira seperti ini,
“Kenapa sih kita harus repot setiap minggu sekali berjalan dari belakang rumah sampai ke trotoar di depan rumah, hanya untuk menarik dan mengatur posisi tong sampah? Biarkan saja tong sampah itu di trotoar, kita tinggal isikan dengan sampah saat kita perlu. Hemat energi dong!”
Saya dan teman serumah yang mendengar komentar rekan itu kemudian manggut-manggut, kami setuju dan minggu selanjutnya kami praktekkan anjurannya itu.
Tiga hari setelah sampah kami diambil, datanglah surat bersahabat dari salah satu tetangga kami. Isinya kira-kira demikian (setelah disadur ke dalam bahasa Indonesia),
“Hello, tetangga kami. Kami melihat tong sampah Anda masih juga berada di tempat yang sama setelah 3 hari sampah kita diambil. Kami mohon kerjasama Anda yang tinggal di rumah ini untuk menjaga keindahan lingkungan sekitar kita. Tong sampah yang berada di depan rumah membuat lingkungan kita tidak sedap dipandang mata. Tolong simpan kembali tong sampah Anda di bagian belakang rumah dan hanya letakkan di trotoar saat sampah kita akan diambil oleh petugas sampah. Terima kasih atas perhatian dan kerjasama Anda semua.”
Wuikkk, ternyata tetangga kami merasa tong sampah telah merusak keindahan pemandangan di sekitar rumah kami. Lucu dan sekaligus mengesalkan juga. Lucu karena hal sepele begini kok bisa bikin orang enggak senang, mengesalkan karena ada yang sok ngatur. But anyway, begitulah, orang di sekitar sana mungkin sudah biasa dengan keteraturan sehingga tidak memberi ruang bagi tindakan yang agak aneh.
Tertipu Sopir Taksi di Sydney
20 Sep 2008 Leave a Comment
in Australia
Tak ada rasa curiga sama sekali saat aku mulai mengantri dan kemudian naik ke salah satu taksi di bandara internasional Sydney hari Minggu malam lalu tanggal 14 September 2008. Semua berlangsung biasa saja, menunggu di antrian, melihat orang lain menarik koper, sopir taksi membuka pintu bagasi, membanti mengangkat koper penumpang, kemudian mereka berangkat.
Demikian pula saat giliranku tiba, petugas pengatur taksi, yang seorang perempuan agak guede, menunjukkan taksi yang berada di antrian nomor 6. Aku segera berjalan ke sana, si sopir turun dan kemudian menyapa, lalu membantu mengangkat koper ke dalam bagasi.
Setelah berada di taksi, kami mulai mengobrol. Rupanya ia orang India, baru sekitar 3 tahun hidup di Sydney. Seperti biasanya, dengan cepat aku merasa bisa akrab dengan sopir taksi yang ramah. So, ngobrolnya jadi lebih seru deh. Dia sempat bertanya kepadaku, udah pernah ke Sydney belum? Aku jawab baru 1 x.
Setelah sekitar 25 menit, singkat cerita kami sampai di depan hotel. Aku tanya berapa ongkosnya dia bilang $69.25. Lalu tanpa curiga aku bilang tolong tanda terima untuk $75. Kemudian aku diberi sebuah kartu seperti kartu nama, dengan tulisan tangannya.
Tiga hari kemudian temanku bercerita bahwa dia membayar $30 untuk ongkos taksi dari bandara domestik, yang tidak jauh dari banda internasional (masih 1 komplek) sampai ke sebuah hotel di ChinaTown yang juga tidak jauh dari hotel tempatku menginap. Saat itu aku baru sadar bahwa sopir taksi yang aku sewa itu telah menipu.
Kemudian hari Jumat pagi kemarin, aku menyewa sebuah taksi lagi untuk pergi ke bandara internasional. Total dengan tips, ongkos yang harus kukeluarkan hanya $50 dan aku diberi tanda terima tercetak. Sopirnya orang India juga ramah, taksinya bersih dan rapi. Menurut sopir taksi yang ini, kakak dan kakak iparnya tinggal di Jogjakarta. Mereka punya bisnis di sana. Aku yakin maksudnya adalah saudara dari entah bapak dan ibunya yang punya saudara lagi dan punya anak yang masih sepupu dengannya. Kakak yang jauh bangetttt….
Jelaslah sekarang, hari Minggu itu aku memang telah ditipu oleh sopir taksi. Tanda terima yang ia berikan kepadaku mungkin bukan tanda terima resmi. Alat penghitung harga yang harusnya aku lihat ternyata malah tidak dinyalakan, aku lupa mengecek karena keasikan mengobrol dengannya. Oleh karena itu dia tidak bisa memberikan tanda terima tercetak seperti yang aku terima pada hari Jumat.
Pelajaran yang kudapatkan adalah:
1. Percaya pada sopir taksi sih oke-oke saja, tapi berhati-hati akan lebih baik.
2. Pastikan meteran taksi dipasang, jangan hanya mengobrol karena merasa akrab, jadi lupa ngecek
3. Tanda terima taksi yang benar bukan hanya berupa sebuah kartu, dengan tulisan ongkos sewa, tapi ada kata-kata tax invoicenya.
4. Ongkos taksi dari bandara Sydney ke pusat kota adalah sekitar $30-$50. Kalau lebih dari harga itu berarti Anda telah tertipu, seperti saya
Lihat nih Dadaku
31 Jul 2007 Leave a Comment
in Australia
Pemandangan pria berjalan dengan bahu terbuka lebar, membusungkan dada dan tangan ditekuk dengan ayunan agak pelan, persis seperti hulk, adalah biasa di gym milik Monash University. Lucunya, kebanyakan dari mereka berperut agak buncit, tapi kalau melihat gaya jalannya, seperti jagoan deh gitu. Banteng sekuat apapun pasti bisa mereka lawan.
Kadang ada pria sengaja melewati cermin, yang memang tersedia di mana-mana, dan sambil berjalan ia menoleh ke arah cermin, dengan badan bagian samping tegak lurus cermin dan tak lupa membusungkan dada serta mengamat-amati hasil body building mereka. Yang bikin lucu itu, mereka sebenarnya kurus gitu lho, tapi kalau lihat gayanya bercermin sepertinya merasa sudah keren betul.
Mungkin inilah salah satu ciri khas pria, selalu memiliki pandangan positif atas bentuk tubuh mereka, semuanya indah.
Secara diam-diam saya memang suka mengamati tingkah laku orang-orang yang pergi ke gym. Lucu-lucu! Ada yang malu-malu karena badannya betul-betul kurus, jadi cuma berlatih sesekali kemudian ambil posisi di pojok. Ada yang bolak balik ke cermin dan melihat body-nya, ada yang berjalan dengan gaya jagoan tadi, ada yang istirahat sambil bengong, kecapean dan kemudian melamun, biasanya yang begini adalah orang-orang tua.
Yang paling wagu tentu saja yang membusung-busungkan dada sambil berjalan agak susah tadi, sekedar mewartakan bahwa ia suka ke gym.
Keluarga Lebih Penting
28 Jul 2007 Leave a Comment
in Australia
Berita panas di negara bagian Victoria pada akhir minggu ini adalah tentang pengunduran diri Premier Steve Bracks, pemimpin tertinggi pemerintahan Victoria, yang menjadi bagian negara federal Australia.
Mr. Bracks sudah memegang jabatannya selama hampir 8 tahun, dimulai sejak tahun 2000-an, setelah memenangkan pemilu negara bagian di akhir tahun 1999. Tidak ada yang menyangka ia akan mengundurkan diri secepat ini.
Memang ada pengamat politik yang memprediksi bahwa Mr. Bracks tidak akan mencalonkan diri untuk dipilih sebagai Premier di periode pemilu mendatang, namun tidak ada yang mengira ia kan berhenti di tengah jalan, pada saat ia sedang berada di puncak kejayaannya di bidang politik.
Alasan yang Mr. Bracks kemukakan kepada pers adalah bahwa ia merasa sudah tidak sanggup lagi memberikan yang terbaik untuk Victoria. Kutipan langsung dari Mr. Bracks berbunyi, “I can no longer give my “body and shoul” to the job.” Ia menambahkan bahwa alasan lainnya adalah kejadian 2 minggu lalu, di mana anak laki-laki tertuanya menabrak pohon karena mabuk alkohol saat menyetir, juga menjadi latar belakang mengapa ia mengundurkan diri sekarang.
Anak lelaki tertuanya baru berumur 20 tahun. Sebagai pemuda berumur 20 tahun di Victoria, SIM yang ia peroleh adalah SIM P alias SIM Percobaan. Salah satu aturan SIM P adalah tidak boleh menyetir pada saat selesai minum alkohol. Kadar alkohol dalam darah harus nol sama sekali. Di Australia sini, larangan menyetir saat berada dalam pengaruh alkohol betul-betul diterapkan dengan ketat, karena sering terjadi kecelakaan karena pengemudi sedang mabuk.
Mr. Bracks sendiri saat itu sampai mengatakan bahwa anaknya idiot, ia tampak kecewa, malu dan menyesal. Rasa sesal itu muncul karena ia merasa gagal menjadi orang tua yang baik. Akhirnya, setelah berembug dengan istri, ia memutuskan untuk mengundurkan diri sama sekali dari kancah perpolitikan, untuk memberikan perhatian lebih banyak kepada anak dan keluarganya.
Pisang Rp 10.000,00/buah
20 Jul 2007 1 Comment
in Australia
Buah pisang, ternyata sekarang sedang mahal. Biasanya, harga pisang per kg di supermarket Coles Clayton adalah sekitar AU$2/kg. Tapi malam ini 8 buah pisang yang saya beli tanpa disadari ternyata berharga $10.
Seperti biasanya, saat sampai di Coles Supermarket, saya masuk lewat pintu yang langsung menuju ke tempat penjualan buah-buahan. Ketika melihat buah pisang, saya langsung sambar sekitar 8 buah tanpa mengecek harga per kg. Cara belanja buah-buahan seperti ini sudah biasa saya lakukan, terutama untuk pisang. Mindset saya masih mindset belanja di pasar kaget. Pisang = produk lokal = murah. Apel = banyak impor = mahal. Dengan pedenya saya kemudian mampir ke rak sereal dan kemudian rak susu. Lalu ke kasir.
Saya prediksi, tiga macam barang dibeli tadi total menghabiskan sekitar $10-$12 saja. Susu seharga hampir $4, Oats Uncle Toby seharga hampir $5 dan pisang, yah sekitar $3 lebih dikit deh.
Ternyata, salah banget deh. Saat kasirnya dengan enteng mengatakan, “Eighteen dollars and blah..blah cents” hatiku langsung…..mak nyusss..mahal amat yakk? Apa gak salah pencet nih kasir. Eh intip-intip punya intip mahalnya di buah pisangnya itu. Satu kg pisang harganya hampir $7 bok.
Jadi, berdasarkan kurs hari ini, di mana XE.Com menghargai AU$1 senilai Rp 8.000,00, maka harga 8 buah pisang yang kubeli tadi adalah Rp 80.000,00…alias satu pisang berharga Rp 10.000,00.
Ada yang mau jadi petani pisang di Aussie? Ayuk ke sini!
Comments